Pulanglah Bersama Hujan!

Selasa, 13 Desember 2011


Aku terdiam diantara keheningan, menyaksikan tetesan air turun dari langit tanpa henti. Sejuk mata ini menatapnya dengan penuh harap agar ia redah sejenak. Aku menghampirinya diujung jendela kamarku, lebih dekat agar aku bisa menyentuh dan merasakan kesejukannya lebih nyata.
Ada banyak alasan mengapa aku menyukai hujan. Sebenarnya dulu aku tak pernah menyukai hujan sama sekali, namun karena kehadiran seseorang yang mengubah diriku menjadi pengagum hujan. Dia mengajariku tentang hujan yang memberi arti kehiduan bagi manusia, dia mengubah hidupku.
Aku harus lebih bersabar untuk menunggu hujan redah, bersabar agar rindu dan pertemuan yang kuharapkan segera kutatap dengan pasti, setelah penantian 5 tahun silam. Dia yang kunanti, dia yang mengajariku tentang nikmat hujan, dia yang mengajariku banyak hal.
Kupejamkan mata ini, berusaha tetap sabar agar hujan redah pada waktu yang kuinginkan. Semoga kau berhenti saat ia pulang, kumohon Tuhan!. Awan masih sama diatas sana, kelam. Tak berubah sama sekali tapi hujan mulai redah di sore  hari ini. Aku bergegas, kandaku tersayang akan pulang. Akan terbayar kerinduanku selama ini.
Tatapanku lurus menerawang  jalanan aspal yang kini berimbun oleh rintik hujan yang perlahan hilang dari pandanganku. Hujan segera berhenti, dan aku..  yah! segera berjumpa dengan dirinya,  meski tak ada ikatan darah namun, aku dan dia saling kenal baik,. Keluarga kami saling mengenal, ibuku dan ibunya adalah teman lama masa SMA.
“ Faaz” nama itu terngiang tiga kali ditelingaku, sangat jelas terekam dalam memoriku. Mungkin kini Dia sudah banyak berubah, masih jelas wajahnya tergambar dalam ingatanku saat keberangkatannya ke Madinah untuk  study. Aku hanya melihatnya sekilas, aku hampir telat waktu itu, aku kabur dari kelas saat pelajaran berlangsung, hanya untuk melihat dirinya yang terakhir kali sebelum ke Madinah.
Aku berdiri, terhenyak kesal menyaksikannya pergi. Aku tak memandang wajah nya untuk yang terakhir kalinya  sebelum ia pergi, aku menahan tangisku hingga dadaku sesak. Aku ingin  mengejar ka’ Faaz sebelum ia benar-benar pergi namun takdir berkata lain, hujan tiba-tiba saja turun membasahi bumi. Aku menghentakkan kaki sambil menangis, sangat kekenak-kanakan.
Aku merasa terkepung oleh hujan, dan ia benar-benar telah pergi, pergi untuk waktu yang lama. Lama  aku terdiam, lalu piket mengampiriku dan memberikan sepucuk surat berwarna biru muda polos. Kubaca kata demi kata, aku sadar ini suratnya yang terakhir, aku membukanya dihadapan para usatad dan ustadzahku, namun mereka sudah paham tentang hubungan kami, toh, ka’ Faaz sudah pergi jauh dari hidupku. Dan mereka hanya tersenyum lucu melihatku menangis disudut gerbang.



Teruntuk Adinda
Aira Sahara
Maafkan ka’ Faaz  yang tidak sempat pamit, kepergian kakak sangat mendadak dek, jadi kakak hanya bisa menyamapaikannya lewat surat ini, doakan kakak semoga kepergian ini, perpisahan ini tak akan lama dan tidak sia-sia. Kakak akan pulang segera.
Ingat janjimu!
Jaga kesehatanmu, rajin minum obat jangan terlalu sering begadang yah... aku tidak ingin adikku yang manis ini nanati sakit lagi, turut sama orang tua, jangan suka ngeyel jadi orang, hehehe. Kapan-kapan kalau ada kesempatan, nanati kakak telfon lagi kalau sudah tamat kan?
I sure miss you a lot.....
Kakak akan pulang, kalau kamu sudah besar nanti, aplagi kalau kau  akan menikah, pasti kakak akan pulang, ok adik manis??? :D
Kanda Faaz






MAWARDA

Belakangan baru aku tahu, kalau kedua orang tua kami, telah menjodohkan aku dan ka’ Faaz. Tepatnya saat aku tamat dari Pesantren dulu. Aku bahagia bukan main karena diam-diam aku menaruh hati padanya. Sejak awal hubungan kami sebagai adik kakak yang terlarang dimata Pesantren, yang termasuk sebuah pelanggaran besar jika kita berhubungan meski itu sekedar adik kakak semata.
Dulu aku heran, mengapa ada peraturan seperti itu, padahal kami tidak pacaran, kami tidak pernah jalan berdua, tidak pernah melakukan hal-hal yang dilarang agama, toh, kami hanya smsan dan chatingan saat libur tiba, apakah itu salah ?. Namun, belakangan saat ia telah pergi, aku sadar bahwa sebenrnya aku telah zina hati, aku tidak lagi menganggapnya sebagai kakak, namun, aku berharap lebih padanya.
Aku tak berharap banyak pada ka’ Faaz. Sebab `ku tahu ada orang lain yang ka’ Faaz cintai. Dia tidak pernah mau memberi tahuku tentang manusia yang dicintainya, tentang perempuan yang telah menaklukkan hatinya.  Yah cinta masa abu-abu dan biru, cintanya anak ABG, cinta monyet yang konyol bin lucu.
Hujan benar-benar telah redah  sore ini, kulihat orang tua ka’ Faaz dari kejauhan. Aku tak berani mendekatinya, malu. Hujan kembali turun namun, bandara masih tetap ramai, sanak saudara  tak kunjung silih berganti mengantar dan menjemput oarang terkasih mereka, termasuk aku, yah... termasuk aku yang menunggu ka’ Faaz disini.
Tidak cukup setengah jam aku menunggu. Ada sosok pemuda dewasa yang wajahnya sangat familiar, sangat dekat terasa. Diakah? Diakah Tuhan? Aku tertunduk malu. Lama, aku kembali mengangkat wajahku kembali dengan tetesan air mata yang tiba-tiba saja jatuh dari tempatnya yang sudah lama ingin keluar. Dingin kurasa. Aku legah, aku bahagia melihatnya datang dengan selamat.
Lama aku terdiam, aku kehilangan jejak ka’ Faaz. Mungkin ia sudah pulang kerumah, melepas rasa rindu yang membuncah. Aku disini ka’! “aku Aira adik kecilmu yang sangat merindukanmu” gumamku dalam hati.

MAWARDA
Rumah bercat putih oranye dan hijauh itu sangat lengang. Kutarik pintu pagarnya, rupanya tidak terkunci. Aku masuk dan memberi salam, rupanya ada orang yang duduk membaca sebuah kitab yang bertuliskan arab. Dia , dia ka Faaz. Pandangannya berbeda kearahku, ia tersenyum tapi senyumnya sangat berbeda Tuhan! Kutatap ia lekat-lekat, Dia sama sekali tak beranjak dari tempatnya. Dia kembali melanjutkan bacaannya.
Aku berjalan selangkah demi selangkah kecil, rasanya aku ingin menangis melihat pertemuan yang telah  lama kunanti hanya menjadi pertemuan biasa saja. “ mungkin ka Faaz sudah lupa ?” tanya itu terus mengintai pikiranku. Tapi tidak, ka Faaz berdiri dari kursinya, menutup bacaannya yang hampir selesai. Ia berdiri lalu berjalan tapi bukan kearahku, ia berjalan kearah taman belakang rumah. Kedatanganku sia-sia, ka Faaz benar-benar telah melupakan Aira Sahara, adik manisnya, itu katanya dulu. Aku bukan siapa-siapa ka Faaz lagi. Aku hanya bagian dari masa lalunya.
Aku tetap berjalan, mengikutinya dari belakang hingga langkah kami sama-sama terhenti. Diam. Dia membelakangiku, Tuhan... dia sama sekali tak menghiraukanku. Apa karena dia telah tahu banyak tentang batasan antara wanita dan laki-laki, karena dia telah jadi ustad? Dia lupa? atau apa? Suruh saja aku pulang dari pada aku disini tanpa arti apa-apa bagimu kakak.
“Ka’ Faaz”  dengan spontan aku memanggil namanya.
Dia berbalik, aku semakin heran dengannya. Ka Faaz menangis, untuk pertama kalinya aku melihat pemuda menagis dihadapanku dengan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
“ kenapa Ka’? ada yang salah?” Ka Faaz masih pada diamnya. Aku semakin bingung dibuatnya. Tiba-tiba saja air langit  tumpah membasahi kami. terdiam. Aku canggung bertemu padanya, aku bukan Aira yang dulu, bukan lagi Aira dengan rok birunya dan Ka’ Faaz bukan lagi dengan celana abu-abunya.
Dia mungkin malu, apa lagi aku. Aku benar-benar kecewa dibuatnya. Sudahlah, mungkin Ka’ Faaz sudah lupa atau apa, aku pulang, aku berbalik  melangkah pergi dari hadapannya.
“Aira....” aku kembali berbalik., Ka’ Faaz memanggilku dengan nada suara sedikit parau,. Dia menahan tangisnya. Aku tersenyum melihatnya, rupanya dia masih ingat dengan adik kecilnya, asih hafal jelas namaku.
“Pulanglah, terima kasih sudah datang kemari dek, kuharap ini pertemuan terakhir kita, pulanglah...” apa? Aku tidak yakin dengan ucapan ka Faaz barusan, seperti sebuah mimpi Allah. Dia menyuruhku pulang tanpa harus menemuinya lagi. Menyakitkan Tuhan.
“kenapa Ka’? ada apa dengan Aira? Kakak benci pada Aira? Kakak kenapa? Ada apa dengan Aira?” sekali lagi air mata Ka Faaz menetes bersama hujan diwajahnya. Aku menjadi serba salah, aku ingin tahu alasan ka Faaz mengusirku pulang.
“kau tidak menyadari semua ini? Kita sudah berbeda Aira, kau... kau sudah meninggal Ra....” Aku terhenyak oleh perkataan ka Faaz. Aku terdiam, ka Faaz terdiam, hanya deru hujan yang semakin membahana diantara kami.
“Aku, Aku meninggal.... tidak mungkin Ka’, lalu kenapa aku masih bisa melihat dan berbicara denganmu?” kini aku yang menggantikan ka Faaz menangis,
“kau menungguku pulang, kau sekarang terbaring tak bernyawa dirumah sakit, 2 hari yang lalu, ibumu memberi kabar bahwa kau telah meninngal karena penyakit yang selama ini kau rahasiakan dariku,” ka Faaz menelan ludahnya dengan kecut.
Aku hanya bisa mengangis, tangis, dan tangis yang berada diantara kami, aku tak bisa merasakan dinginnya hujan seperti hari-hari sebelumnya. Aku benar-benar telah pergi dari sisi kehidupan mereka.
“pulanglah... pulanglah bersama hujan. Kutitip ia padamu, selamanya aku mencintaimu dik, pulanglah... semoga kau tenang disana, aku akan merindukan tiap tetesan hujan yang Allah turunkan padaku disini.”  Ka Faaz berlalu meninggalkanku bersama hujan yang semakin deras. Hujan bawa aku pulang.....
MAWARDA





0 komentar:

Posting Komentar

 
Mawarda © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets