Aku terdiam
diantara keheningan, menyaksikan tetesan air turun dari langit tanpa henti.
Sejuk mata ini menatapnya dengan penuh harap agar ia redah sejenak. Aku
menghampirinya diujung jendela kamarku, lebih dekat agar aku bisa menyentuh dan
merasakan kesejukannya lebih nyata.
Ada banyak
alasan mengapa aku menyukai hujan. Sebenarnya dulu aku tak pernah menyukai
hujan sama sekali, namun karena kehadiran seseorang yang mengubah diriku
menjadi pengagum hujan. Dia mengajariku tentang hujan yang memberi arti
kehiduan bagi manusia, dia mengubah hidupku.
Aku harus
lebih bersabar untuk menunggu hujan redah, bersabar agar rindu dan pertemuan
yang kuharapkan segera kutatap dengan pasti, setelah penantian 5 tahun silam.
Dia yang kunanti, dia yang mengajariku tentang nikmat hujan, dia yang
mengajariku banyak hal.
Kupejamkan
mata ini, berusaha tetap sabar agar hujan redah pada waktu yang kuinginkan.
Semoga kau berhenti saat ia pulang, kumohon Tuhan!. Awan masih sama diatas
sana, kelam. Tak berubah sama sekali tapi hujan mulai redah di sore hari ini. Aku bergegas, kandaku tersayang
akan pulang. Akan terbayar kerinduanku selama ini.
Tatapanku lurus menerawang jalanan
aspal yang kini berimbun oleh rintik hujan yang perlahan hilang dari pandanganku.
Hujan segera berhenti, dan aku.. yah!
segera berjumpa dengan dirinya, meski
tak ada ikatan darah namun, aku dan dia saling kenal baik,. Keluarga kami
saling mengenal, ibuku dan ibunya adalah teman lama masa SMA.
“ Faaz” nama itu terngiang tiga kali ditelingaku, sangat jelas terekam
dalam memoriku. Mungkin kini Dia sudah banyak berubah, masih jelas wajahnya
tergambar dalam ingatanku saat keberangkatannya ke Madinah untuk study.
Aku hanya melihatnya sekilas, aku hampir telat waktu itu, aku kabur dari kelas
saat pelajaran berlangsung, hanya untuk melihat dirinya yang terakhir kali
sebelum ke Madinah.
Aku berdiri, terhenyak kesal menyaksikannya pergi. Aku tak memandang
wajah nya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi, aku menahan tangisku hingga
dadaku sesak. Aku ingin mengejar ka’ Faaz
sebelum ia benar-benar pergi namun takdir berkata lain, hujan tiba-tiba saja
turun membasahi bumi. Aku menghentakkan kaki sambil menangis, sangat
kekenak-kanakan.
Aku merasa terkepung oleh hujan, dan ia benar-benar telah pergi, pergi
untuk waktu yang lama. Lama aku terdiam,
lalu piket mengampiriku dan
memberikan sepucuk surat berwarna biru muda polos. Kubaca kata demi kata, aku
sadar ini suratnya yang terakhir, aku membukanya dihadapan para usatad dan
ustadzahku, namun mereka sudah paham tentang hubungan kami, toh, ka’ Faaz sudah
pergi jauh dari hidupku. Dan mereka hanya tersenyum lucu melihatku menangis
disudut gerbang.
Teruntuk Adinda
Aira
Sahara
Maafkan
ka’ Faaz yang tidak sempat pamit,
kepergian kakak sangat mendadak dek, jadi kakak hanya bisa menyamapaikannya
lewat surat ini, doakan kakak semoga kepergian ini, perpisahan ini tak akan
lama dan tidak sia-sia. Kakak akan pulang segera.
Ingat
janjimu!
Jaga
kesehatanmu, rajin minum obat jangan terlalu sering begadang yah... aku
tidak ingin adikku yang manis ini nanati sakit lagi, turut sama orang tua,
jangan suka ngeyel jadi orang, hehehe. Kapan-kapan kalau ada kesempatan,
nanati kakak telfon lagi kalau sudah tamat kan?
I
sure miss you a lot.....
Kakak
akan pulang, kalau kamu sudah besar nanti, aplagi kalau kau akan menikah, pasti kakak akan pulang, ok
adik manis??? :D
Kanda Faaz
|
MAWARDA
Belakangan baru aku tahu, kalau kedua orang tua kami, telah menjodohkan
aku dan ka’ Faaz. Tepatnya saat aku tamat dari Pesantren dulu. Aku bahagia
bukan main karena diam-diam aku menaruh hati padanya. Sejak awal hubungan kami
sebagai adik kakak yang terlarang dimata Pesantren, yang termasuk sebuah
pelanggaran besar jika kita berhubungan meski itu sekedar adik kakak semata.
Dulu aku heran, mengapa ada peraturan seperti itu, padahal kami tidak
pacaran, kami tidak pernah jalan berdua, tidak pernah melakukan hal-hal yang
dilarang agama, toh, kami hanya smsan dan chatingan saat libur tiba, apakah itu
salah ?. Namun, belakangan saat ia telah pergi, aku sadar bahwa sebenrnya aku
telah zina hati, aku tidak lagi menganggapnya sebagai kakak, namun, aku
berharap lebih padanya.
Aku tak berharap banyak pada ka’ Faaz. Sebab `ku tahu ada orang lain
yang ka’ Faaz cintai. Dia tidak pernah mau memberi tahuku tentang manusia yang
dicintainya, tentang perempuan yang telah menaklukkan hatinya. Yah cinta masa abu-abu dan biru, cintanya
anak ABG, cinta monyet yang konyol bin lucu.
Hujan benar-benar telah redah sore
ini, kulihat orang tua ka’ Faaz dari kejauhan. Aku tak berani mendekatinya, malu.
Hujan kembali turun namun, bandara masih tetap ramai, sanak saudara tak kunjung silih berganti mengantar dan
menjemput oarang terkasih mereka, termasuk aku, yah... termasuk aku yang
menunggu ka’ Faaz disini.
Tidak cukup setengah jam aku menunggu. Ada sosok pemuda dewasa yang
wajahnya sangat familiar, sangat dekat terasa. Diakah? Diakah Tuhan? Aku
tertunduk malu. Lama, aku kembali mengangkat wajahku kembali dengan tetesan air
mata yang tiba-tiba saja jatuh dari tempatnya yang sudah lama ingin keluar.
Dingin kurasa. Aku legah, aku bahagia melihatnya datang dengan selamat.
Lama aku terdiam, aku kehilangan jejak ka’ Faaz. Mungkin ia sudah pulang
kerumah, melepas rasa rindu yang membuncah. Aku disini ka’! “aku Aira adik
kecilmu yang sangat merindukanmu” gumamku dalam hati.
MAWARDA
Rumah bercat putih oranye dan hijauh itu sangat lengang. Kutarik pintu
pagarnya, rupanya tidak terkunci. Aku masuk dan memberi salam, rupanya ada
orang yang duduk membaca sebuah kitab yang bertuliskan arab. Dia , dia ka Faaz.
Pandangannya berbeda kearahku, ia tersenyum tapi senyumnya sangat berbeda
Tuhan! Kutatap ia lekat-lekat, Dia sama sekali tak beranjak dari tempatnya. Dia
kembali melanjutkan bacaannya.
Aku berjalan selangkah demi selangkah kecil, rasanya aku ingin menangis
melihat pertemuan yang telah lama
kunanti hanya menjadi pertemuan biasa saja. “ mungkin ka Faaz sudah lupa ?”
tanya itu terus mengintai pikiranku. Tapi tidak, ka Faaz berdiri dari kursinya,
menutup bacaannya yang hampir selesai. Ia berdiri lalu berjalan tapi bukan
kearahku, ia berjalan kearah taman belakang rumah. Kedatanganku sia-sia, ka Faaz
benar-benar telah melupakan Aira Sahara, adik manisnya, itu katanya dulu. Aku
bukan siapa-siapa ka Faaz lagi. Aku hanya bagian dari masa lalunya.
Aku tetap berjalan, mengikutinya dari belakang hingga langkah kami
sama-sama terhenti. Diam. Dia membelakangiku, Tuhan... dia sama sekali tak
menghiraukanku. Apa karena dia telah tahu banyak tentang batasan antara wanita
dan laki-laki, karena dia telah jadi ustad? Dia lupa? atau apa? Suruh saja aku
pulang dari pada aku disini tanpa arti apa-apa bagimu kakak.
“Ka’ Faaz” dengan spontan aku
memanggil namanya.
Dia berbalik, aku semakin heran dengannya. Ka Faaz menangis, untuk
pertama kalinya aku melihat pemuda menagis dihadapanku dengan tiba-tiba tanpa
alasan yang jelas.
“ kenapa Ka’? ada yang salah?” Ka Faaz masih pada diamnya. Aku semakin
bingung dibuatnya. Tiba-tiba saja air langit
tumpah membasahi kami. terdiam. Aku canggung bertemu padanya, aku bukan
Aira yang dulu, bukan lagi Aira dengan rok birunya dan Ka’ Faaz bukan lagi
dengan celana abu-abunya.
Dia mungkin malu, apa lagi aku. Aku benar-benar kecewa dibuatnya.
Sudahlah, mungkin Ka’ Faaz sudah lupa atau apa, aku pulang, aku berbalik melangkah pergi dari hadapannya.
“Aira....” aku kembali berbalik., Ka’ Faaz memanggilku dengan nada suara
sedikit parau,. Dia menahan tangisnya. Aku tersenyum melihatnya, rupanya dia
masih ingat dengan adik kecilnya, asih hafal jelas namaku.
“Pulanglah, terima kasih sudah datang kemari dek, kuharap ini pertemuan
terakhir kita, pulanglah...” apa? Aku tidak yakin dengan ucapan ka Faaz
barusan, seperti sebuah mimpi Allah. Dia menyuruhku pulang tanpa harus
menemuinya lagi. Menyakitkan Tuhan.
“kenapa Ka’? ada apa dengan Aira? Kakak benci pada Aira? Kakak kenapa?
Ada apa dengan Aira?” sekali lagi air mata Ka Faaz menetes bersama hujan
diwajahnya. Aku menjadi serba salah, aku ingin tahu alasan ka Faaz mengusirku
pulang.
“kau tidak menyadari semua ini? Kita sudah berbeda Aira, kau... kau
sudah meninggal Ra....” Aku terhenyak oleh perkataan ka Faaz. Aku terdiam, ka
Faaz terdiam, hanya deru hujan yang semakin membahana diantara kami.
“Aku, Aku meninggal.... tidak mungkin Ka’, lalu kenapa aku masih bisa melihat
dan berbicara denganmu?” kini aku yang menggantikan ka Faaz menangis,
“kau menungguku pulang, kau sekarang terbaring tak bernyawa dirumah
sakit, 2 hari yang lalu, ibumu memberi kabar bahwa kau telah meninngal karena
penyakit yang selama ini kau rahasiakan dariku,” ka Faaz menelan ludahnya
dengan kecut.
Aku hanya bisa mengangis, tangis, dan tangis yang berada diantara kami,
aku tak bisa merasakan dinginnya hujan seperti hari-hari sebelumnya. Aku
benar-benar telah pergi dari sisi kehidupan mereka.
“pulanglah... pulanglah bersama hujan. Kutitip ia padamu, selamanya aku
mencintaimu dik, pulanglah... semoga kau tenang disana, aku akan merindukan
tiap tetesan hujan yang Allah turunkan padaku disini.” Ka Faaz berlalu meninggalkanku bersama hujan
yang semakin deras. Hujan bawa aku pulang.....
MAWARDA


0 komentar:
Posting Komentar