RUANG RINDU HUJAN

Senin, 03 Desember 2012


Bulir-bulir air dari langit perlahan berhenti sejenak. Meninggalkan gerimis manja setelah hujan deras usai mewarnai senja di kota malang. Angin berhembus sejuk membawa aroma bau tanah basah menyeruak dalam indera penciuman masuk ke rongga dada yang memenuhi sesak menyegarkan. Dingin semakin bergelayut memenuhi sudut ruang.
Bersama gerimis kulangkahkan kaki melewati genangan-genangan air berwarna coklat pekat. Pepohonan rimbun menyisakan daun berguguran yang jatuh dengan senada warna tanah. Cantik. Bagaikan musim semi di negeri sakura, meskipun hanya sekedar musim hujan di kota Malang bagiku sama saja indahnya jika perasaan hati memang sedang dilanda bahagia yang luar biasa.
Hari ini hujan. Itu artinya rahmat Tuhan sedang turun memenuhi bumi. Hujan adalah salah satu anugerah terbesar yang dikirimkan Tuhan untuk seluruh makhluk ciptaanNya di bumi. Pada akhirnya, hari ini aku sungguh jatuh cinta pada gerimis yang menggantikan semburat senja di ujung sana. Tuhan, untuk kesekian kalinya aku merasakan nikmatMu. Merasakan sentuhan gerimis dengan berbagai perasaan bahagia di hati ini.
“bruuk…” seketika aku hilang kendali. betapa malunya aku terjatuh ditepian jalan besar menuju pulang. Mungkin keasyikan menikmati gerimis sore ini yang hanya terfokus pada suatu titik. Hujan. Penglihatanku tiba-tiba menerawang. Buram. Kukucek-kucek mataku beberapa kali sambil menggeleng-gelengkan kepala agar penglihatanku segera normal kembali.
Aku bangun dari tumpuanku terjatuh. Membersihkan sedikit cipratan air hujan yang berbekas pada gamis hijau yang kukenakan. Aku memandang sekitar, rupanya tidak jauh dari tempatku berdiri, dua orang pemuda sedang asyik menertawai kejadian konyol yang baru saja kulakukan. Ah, rupanya mereka bertiga bukan berdua namun pemuda yang satu hanya terdiam sambil menatap kearahku. Memalukan! dan aku hanya bisa tersenyum kecut saat melewati mereka. Kejadian ini sedikit merusak kebahagiaan yang baru saja kurampung bersama hujan. Kebahagiaan, yang sebentar lagi aku akan merasakan musim gugur di negeri sakura. Big thanks for God, akhirnya aku bisa melanjutkan kuliah S2 gratis di jepang selama dua tahun.
-MAWARDA-
Segar setelah mengguyur tubuh ini dengan beberapa gayung air. Merebahkan tubuh diatas kasur rasanya ingin melanglang buana ke negeri mimpi, namun sebentar lagi adzan magrib menggema. memeluk empuk bantal kesayangan cukuplah tanpa harus terlelap bersamanya. Pikiranku melayang jauh ke negeri matahari. Membayangkan rasanya menikmati senja dibawah guguran bunga sakura. Tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada kejadian sore di tepi jalan besar menuju pulang. Kejadian sore ini, benar-benar memalukan.
Rasanya tidak ingin bertemu meraka kembali dimanapun. dua lelaki asing menertawaiku dengan penuh kesungguhan pada kesempatan yang konyol. Aku teringat sosok lelaki berkaos oblong yang memandangku dengan ekspresi berbeda. Bukan apa-apa, rasanya ada yang mengganjal dengan pertemuan singkat sore tadi. Aku bukannya ke ge-eran, namun benar! Lelaki itu menatapku dalam-dalam. Jadi pangling sendiri.
“Allahu akbar..Allahu akbar..”’
Suara adzan telah menggema dicerobong suara masjid dekat kostku. Kira-kira lima rumah dari kostanku. Namun anehnya kebanyakan para pujangga depan kostanku malas sekali melangkahkan kakinya menuju rumah Allah memenuhi undanganNya. Entahlah! Padahal ngakunya mereka muslim lalu tak melaksanakan kewajiban mereka. Manusia benar-benar unik untuk kita pelajari. Mungkin dunia sudah terbalik.
Perasaanku kembali sedikit tenang setelah membaca kalam-kalam Ilahi seusai magrib tadi. Kuletakkan mushaf itu pada tumpukan buku paling atas lalu kembali merebahkan diri diatas kasur beralas seprei bermotif kotak. Lelaki berkaos oblong sore itu masih saja memenuhi pikiranku. Aku tak habis pikir insiden sore itu rasanya memberikan ruang tersendiri bagi hujan dan lelaki itu.
Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri
utukku……
Lirik lagu karya salah satu band Indonesia ternama memaksaku untuk kembali memikirkan lelaki itu. Kutepis dalam-dalam perasaan yang mengganjal tentang sosok lelaki hujan. Aku menamai lelaki itu dengan nama lelaki hujan. Sedikit kedengaran aneh tapi itulah nama terindah yang kuberikan pada sosok misterius di senja hari itu, yang membuat diriku meluangkan sedikit waktu untuk mengenal sosok dirinya. Saatnya kembali dengan rutinitas, kembali dengan tumpukan buku dan tumpukan tugas yang tidak tahu bagaimana kabarnya. Lupakan lelaki hujan!. Lupakan !
-MAWARDA-
Pagi kembali datang dengan segala rahasia Tuhan. Mentari terbit di ufuk timur dibawah kaki langit dengan penuh keindahan. Sudah dua hari terakhir aku sendiri di kostan. Mahasiswa baru tetangga kamarku kemarin pulang kampung karena ibunya sakit keras. Mba Sita, tetangga depan kamarku berangkat ke sidoarjo dalam rangka KKN. Sedang ibu kost sudah seminggu pulang kampung bersama suami dan tiga orang putranya. Sendiri itu rasanya tidak enak sekali. Tak ada teman cerita serta teman berbagi.
Hari ini perasaanku tidak boleh separuh. Kukumpulkan semangat dan satukan langkah agar tidak ada penyesalan nantinya. “ayo Nis, ayo Nisaaaa semangat! Semangat!” itu saja sugesti positif yang selalu kudengung-dengungkan dalam hatiku agar hari-hari yang kulalui di tanah kampung orang lebih bermakna untuk menjalani rangkaian cerita Tuhan. Semangat!
Aku dikejar waktu. Pagi ini aku sedikit keteteran. Aku terlupa kalau-kalau hari ini ada jadwal seminar di balai kota sana. Seperti biasa. Dikejar waktu, itu artinya makan cepat, mandi cepat serta langkah kaki menuju tempat yang dituju seperti jalan namun sedikit cepat, seperti lari namun sedikit lambat. Anggap saja jalan cepat. Alhasil secapat itu pula nafasku naik turun.
Dengan nafas sedikit terengah kumasuki ruangan seminar. Sesekali aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Memperbaiki posisi duduk serta tersenyum ramah pada orang-orang disekitar. Mencoba menenangkan diri sebelum acara benar-banar ingin dimulai.  Momentnya dapat! Aku tidak terlambat sedikitpun untuk acara seperti ini untuk kesekian kalinya. Nyaris.
Acarapun dimulai. Penuh riuh dan semangat para audiensi saat pembawa acara mulai membuka acara dengan penuh semangat serta ekpresi wajah dan gerak tubuh yang mendukung satu sama lain. Harmonis. Berpekaian rapi dan berpenampilan menarik memang tuntutan untuk seorang singa acara agar acara dapat berjalan penuh khidmat sesuai rencana.
Beberapa menit kemudian, saat acara masih berlangsung. Tanpa kesadaran penuh, dengan wajah yang sedikit melongo keheranan. Diam. Aku memperhatikan lama si singa acara yang berada dihadapanku ini. Diatas panggung ia duduk tenang mendengarkan isi materi. Sama halnya dengan diriku. namun, aku baru menyadari kalau pembawa acara kali ini si lelaki hujan. Kutelan air ludahku pekat dengan perhatian bulat menatap dirinya. Tidak salah lagi dia lelaki hujan yang kutemui ditepi jalan besar menuju pulang.
Dia menatapku penuh. Duduk paling depan rasanya sudah tidak nyaman lagi. Lelaki hujan yang berlaga misterius yang membuat diriku geram setengah mati. Sepertinya kami saling menyadari kalau kita sama-sama memikirkan satu sama lain. Aku tak pernah bermaksud untuk hal ini. Namun memoriku terus saja memanggil dalam otak. Apa yang dia pikirkan tentangku hingga dia menatapku seperti itu? Apa? Apa?. Apakah kami pernah bertemu sebelumnya, sebelum keadian di sore itu? Apakah kami pernah kenal satu sama lain?. Menggemaskan.
Kuputuskan untuk pulang segera sebelum acara benar-benar usai. Dan aku pulang dengan sejuta tanya dalam benakku. Mencoba merecall ulang ingatan yang telah lalu. Mungkin saja ada sesuatu file rusak yang bisa disegarkan kembali untuk memecahkan teka-teki kali ini. Perasaanku mulai yakin kalau lelaki hujan itu adalah salah satu bagian dari masa laluku, tapi siapa dia? Dia seperti meninggalkan jejak yang tak terbaca. Samar-samar.
Selama perjalanan pulang hingga tiba dirumah, aku masih saja mencoba mengingat-ingat sesuatu hal yang mungkin terselip disuatu file dalam memoriku tentang lelaki hujan. Kucubit-cubit boneka beruang yang berada tepat disampingku.
“siapa kau ? hey! Siapa kau lelaki hujan?” geramku dalam hati.
Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Menatap langit-langit kamarku berharap bisa kutemukan jejak yang membekas diatas sana. Nihil. Kemudian perlahan kupejamkan mataku. Memasuki dunia imaji. Mungkin saja disana bisa kutemukan serpihan-serpihan masa lalu tentangnya. Tentang lelaki hujan dengan sosok misteriusnya.
Seketika aku terbangun dari rebahanku, menatap kembali langit-langit serta dinding kamarku yang berwana hijau daun. Aku menemukannya jawabannya! Sekarang aku tahu tentang lelaki hujan itu. Benar adanya kalau dia adalah salah satu bagian dari masa laluku. Aku menggelengkan kepala lalu tertawa kecil menatap foto yang terpajang di atas lemariku. Kuraih foto itu dan kutemukan jawaban dari tiap tanda tanya yang menggantung dalam benakku. Ah, kau lelaki hujan itu ternyata. Kutunjuk salah satu orang dalam foto itu sambil tersenyum malu.
Anggap saja pertemuan sore itu adalah suatu anugerah dari Tuhan yang mempertemukan aku bersama si lelaki hujan dalam ruang rindu hujan. Rindu hujan yang sejak lama kunanti yang memetakan jarak dan waktu sekian lama. sekali lagi Big thanks for God yang telah mengingatkanku tentang siapa dia sebenarnya. Terima kasih bocah tengik. Terimakasih lelaki hujan. Dan terima kasih hujan kala senja itu.
Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri
utukku……
Kali ini lagu “Hujan” milik band Utopia mengantar tidur siangku bersama lelaki hujan. Selamat marangkai mimpi indah dalam dunia imajimu. Mendung diluar sana sedikit menaruh harapan agar hujan benar-benar turun mengantar tidurku dalam lelap. Selamat  beristirahat dalam ruang rindu hujan yang kunanti.
-THE END-

0 komentar:

Posting Komentar

 
Mawarda © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets