Bulir-bulir
air dari langit perlahan berhenti sejenak. Meninggalkan gerimis manja setelah
hujan deras usai mewarnai senja di kota malang. Angin berhembus sejuk membawa
aroma bau tanah basah menyeruak dalam indera penciuman masuk ke rongga dada yang
memenuhi sesak menyegarkan. Dingin semakin bergelayut memenuhi sudut ruang.
Bersama
gerimis kulangkahkan kaki melewati genangan-genangan air berwarna coklat pekat.
Pepohonan rimbun menyisakan daun berguguran yang jatuh dengan senada warna
tanah. Cantik. Bagaikan musim semi di negeri sakura, meskipun hanya sekedar musim
hujan di kota Malang bagiku sama saja indahnya jika perasaan hati memang sedang
dilanda bahagia yang luar biasa.
Hari
ini hujan. Itu artinya rahmat Tuhan sedang turun memenuhi bumi. Hujan adalah salah
satu anugerah terbesar yang dikirimkan Tuhan untuk seluruh makhluk ciptaanNya di
bumi. Pada akhirnya, hari ini aku sungguh jatuh cinta pada gerimis yang
menggantikan semburat senja di ujung sana. Tuhan, untuk kesekian kalinya aku
merasakan nikmatMu. Merasakan sentuhan gerimis dengan berbagai perasaan bahagia
di hati ini.
“bruuk…” seketika aku hilang kendali. betapa malunya aku terjatuh ditepian jalan besar menuju pulang. Mungkin keasyikan menikmati gerimis sore ini yang hanya terfokus pada suatu titik. Hujan. Penglihatanku tiba-tiba menerawang. Buram. Kukucek-kucek mataku beberapa kali sambil menggeleng-gelengkan kepala agar penglihatanku segera normal kembali.
“bruuk…” seketika aku hilang kendali. betapa malunya aku terjatuh ditepian jalan besar menuju pulang. Mungkin keasyikan menikmati gerimis sore ini yang hanya terfokus pada suatu titik. Hujan. Penglihatanku tiba-tiba menerawang. Buram. Kukucek-kucek mataku beberapa kali sambil menggeleng-gelengkan kepala agar penglihatanku segera normal kembali.
Aku
bangun dari tumpuanku terjatuh. Membersihkan sedikit cipratan air hujan yang
berbekas pada gamis hijau yang kukenakan. Aku memandang sekitar, rupanya tidak jauh
dari tempatku berdiri, dua orang pemuda sedang asyik menertawai kejadian konyol
yang baru saja kulakukan. Ah, rupanya mereka bertiga bukan berdua namun pemuda
yang satu hanya terdiam sambil menatap kearahku. Memalukan! dan aku hanya bisa
tersenyum kecut saat melewati mereka. Kejadian ini sedikit merusak kebahagiaan
yang baru saja kurampung bersama hujan. Kebahagiaan, yang sebentar lagi aku
akan merasakan musim gugur di negeri sakura. Big thanks for God, akhirnya aku bisa melanjutkan kuliah S2 gratis
di jepang selama dua tahun.
-MAWARDA-
Segar
setelah mengguyur tubuh ini dengan beberapa gayung air. Merebahkan tubuh diatas
kasur rasanya ingin melanglang buana ke negeri mimpi, namun sebentar lagi adzan
magrib menggema. memeluk empuk bantal kesayangan cukuplah tanpa harus terlelap
bersamanya. Pikiranku melayang jauh ke negeri matahari. Membayangkan rasanya
menikmati senja dibawah guguran bunga sakura. Tiba-tiba pikiranku kembali
melayang pada kejadian sore di tepi jalan besar menuju pulang. Kejadian sore
ini, benar-benar memalukan.
Rasanya
tidak ingin bertemu meraka kembali dimanapun. dua lelaki asing menertawaiku
dengan penuh kesungguhan pada kesempatan yang konyol. Aku teringat sosok lelaki
berkaos oblong yang memandangku dengan ekspresi berbeda. Bukan apa-apa, rasanya
ada yang mengganjal dengan pertemuan singkat sore tadi. Aku bukannya ke
ge-eran, namun benar! Lelaki itu menatapku dalam-dalam. Jadi pangling sendiri.
“Allahu
akbar..Allahu akbar..”’
Suara
adzan telah menggema dicerobong suara masjid dekat kostku. Kira-kira lima rumah
dari kostanku. Namun anehnya kebanyakan para pujangga depan kostanku malas
sekali melangkahkan kakinya menuju rumah Allah memenuhi undanganNya. Entahlah!
Padahal ngakunya mereka muslim lalu tak melaksanakan kewajiban mereka. Manusia
benar-benar unik untuk kita pelajari. Mungkin dunia sudah terbalik.
Perasaanku
kembali sedikit tenang setelah membaca kalam-kalam Ilahi seusai magrib tadi.
Kuletakkan mushaf itu pada tumpukan buku paling atas lalu kembali merebahkan
diri diatas kasur beralas seprei bermotif kotak. Lelaki berkaos oblong sore itu
masih saja memenuhi pikiranku. Aku tak habis pikir insiden sore itu rasanya
memberikan ruang tersendiri bagi hujan dan lelaki itu.
Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri
utukku……
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri
utukku……
Lirik
lagu karya salah satu band Indonesia ternama memaksaku untuk kembali memikirkan
lelaki itu. Kutepis dalam-dalam perasaan yang mengganjal tentang sosok lelaki
hujan. Aku menamai lelaki itu dengan nama lelaki hujan. Sedikit kedengaran aneh
tapi itulah nama terindah yang kuberikan pada sosok misterius di senja hari
itu, yang membuat diriku meluangkan sedikit waktu untuk mengenal sosok dirinya.
Saatnya kembali dengan rutinitas, kembali dengan tumpukan buku dan tumpukan
tugas yang tidak tahu bagaimana kabarnya. Lupakan lelaki hujan!. Lupakan !
-MAWARDA-
Pagi
kembali datang dengan segala rahasia Tuhan. Mentari terbit di ufuk timur
dibawah kaki langit dengan penuh keindahan. Sudah dua hari terakhir aku sendiri
di kostan. Mahasiswa baru tetangga kamarku kemarin pulang kampung karena ibunya
sakit keras. Mba Sita, tetangga depan kamarku berangkat ke sidoarjo dalam
rangka KKN. Sedang ibu kost sudah seminggu pulang kampung bersama suami dan
tiga orang putranya. Sendiri itu rasanya tidak enak sekali. Tak ada teman
cerita serta teman berbagi.
Hari
ini perasaanku tidak boleh separuh. Kukumpulkan semangat dan satukan langkah
agar tidak ada penyesalan nantinya. “ayo Nis, ayo Nisaaaa semangat! Semangat!”
itu saja sugesti positif yang selalu kudengung-dengungkan dalam hatiku agar
hari-hari yang kulalui di tanah kampung orang lebih bermakna untuk menjalani
rangkaian cerita Tuhan. Semangat!
Aku
dikejar waktu. Pagi ini aku sedikit keteteran. Aku terlupa kalau-kalau hari ini
ada jadwal seminar di balai kota sana. Seperti biasa. Dikejar waktu, itu
artinya makan cepat, mandi cepat serta langkah kaki menuju tempat yang dituju
seperti jalan namun sedikit cepat, seperti lari namun sedikit lambat. Anggap
saja jalan cepat. Alhasil secapat itu pula nafasku naik turun.
Dengan
nafas sedikit terengah kumasuki ruangan seminar. Sesekali aku menarik nafas
dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Memperbaiki posisi duduk serta
tersenyum ramah pada orang-orang disekitar. Mencoba menenangkan diri sebelum
acara benar-banar ingin dimulai. Momentnya
dapat! Aku tidak terlambat sedikitpun untuk acara seperti ini untuk kesekian
kalinya. Nyaris.
Acarapun
dimulai. Penuh riuh dan semangat para audiensi saat pembawa acara mulai membuka
acara dengan penuh semangat serta ekpresi wajah dan gerak tubuh yang mendukung
satu sama lain. Harmonis. Berpekaian rapi dan berpenampilan menarik memang
tuntutan untuk seorang singa acara agar acara dapat berjalan penuh khidmat
sesuai rencana.
Beberapa
menit kemudian, saat acara masih berlangsung. Tanpa kesadaran penuh, dengan
wajah yang sedikit melongo keheranan. Diam. Aku memperhatikan lama si singa
acara yang berada dihadapanku ini. Diatas panggung ia duduk tenang mendengarkan
isi materi. Sama halnya dengan diriku. namun, aku baru menyadari kalau pembawa
acara kali ini si lelaki hujan. Kutelan air ludahku pekat dengan perhatian
bulat menatap dirinya. Tidak salah lagi dia lelaki hujan yang kutemui ditepi
jalan besar menuju pulang.
Dia
menatapku penuh. Duduk paling depan rasanya sudah tidak nyaman lagi. Lelaki
hujan yang berlaga misterius yang membuat diriku geram setengah mati. Sepertinya
kami saling menyadari kalau kita sama-sama memikirkan satu sama lain. Aku tak
pernah bermaksud untuk hal ini. Namun memoriku terus saja memanggil dalam otak.
Apa yang dia pikirkan tentangku hingga dia menatapku seperti itu? Apa? Apa?.
Apakah kami pernah bertemu sebelumnya, sebelum keadian di sore itu? Apakah kami
pernah kenal satu sama lain?. Menggemaskan.
Kuputuskan
untuk pulang segera sebelum acara benar-benar usai. Dan aku pulang dengan
sejuta tanya dalam benakku. Mencoba merecall
ulang ingatan yang telah lalu. Mungkin saja ada sesuatu file rusak yang
bisa disegarkan kembali untuk memecahkan teka-teki kali ini. Perasaanku mulai
yakin kalau lelaki hujan itu adalah salah satu bagian dari masa laluku, tapi
siapa dia? Dia seperti meninggalkan jejak yang tak terbaca. Samar-samar.
Selama
perjalanan pulang hingga tiba dirumah, aku masih saja mencoba mengingat-ingat
sesuatu hal yang mungkin terselip disuatu file dalam memoriku tentang lelaki
hujan. Kucubit-cubit boneka beruang yang berada tepat disampingku.
“siapa
kau ? hey! Siapa kau lelaki hujan?” geramku dalam hati.
Kurebahkan
tubuhku diatas kasur. Menatap langit-langit kamarku berharap bisa kutemukan
jejak yang membekas diatas sana. Nihil. Kemudian perlahan kupejamkan mataku.
Memasuki dunia imaji. Mungkin saja disana bisa kutemukan serpihan-serpihan masa
lalu tentangnya. Tentang lelaki hujan dengan sosok misteriusnya.
Seketika
aku terbangun dari rebahanku, menatap kembali langit-langit serta dinding
kamarku yang berwana hijau daun. Aku menemukannya jawabannya! Sekarang aku tahu
tentang lelaki hujan itu. Benar adanya kalau dia adalah salah satu bagian dari
masa laluku. Aku menggelengkan kepala lalu tertawa kecil menatap foto yang
terpajang di atas lemariku. Kuraih foto itu dan kutemukan jawaban dari tiap
tanda tanya yang menggantung dalam benakku. Ah, kau lelaki hujan itu ternyata.
Kutunjuk salah satu orang dalam foto itu sambil tersenyum malu.
Anggap
saja pertemuan sore itu adalah suatu anugerah dari Tuhan yang mempertemukan aku
bersama si lelaki hujan dalam ruang rindu hujan. Rindu hujan yang sejak lama
kunanti yang memetakan jarak dan waktu sekian lama. sekali lagi Big thanks for God yang telah
mengingatkanku tentang siapa dia sebenarnya. Terima kasih bocah tengik. Terimakasih
lelaki hujan. Dan terima kasih hujan kala senja itu.
Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri
utukku……
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri
utukku……
Kali
ini lagu “Hujan” milik band Utopia mengantar tidur siangku bersama lelaki hujan.
Selamat marangkai mimpi indah dalam dunia imajimu. Mendung diluar sana sedikit
menaruh harapan agar hujan benar-benar turun mengantar tidurku dalam lelap.
Selamat beristirahat dalam ruang rindu
hujan yang kunanti.
-THE END-


0 komentar:
Posting Komentar