Setiap petang aku mendapatinya selalu
bergegas rapi ke mushollah, setiap petang aku sering sekali mendapatinya
melantunkan ayat-ayat Allah di dalam rumahnya itu, yang aku tahu dia selalu
melaksanakan sholat-sholat sunnah seperti yang dicontohkan nabi. Aku mendapati
dirinya untuk kesekian kalinya beribadah pada Tuhannya.
Petang ini dia belum datang di Mushollah
seperti biasanya. Perempuan itu sama sekali tak muncul hingga sholat maghrib
usai. Setelah berdoa dan mendengarkan kultum ustad, aku bergegas pulang ke
asrama. Kudapati perempuan itu terbaring diatas kasurnya. Aku menghampirinya
perlahan, tiba-tiba saja seorang perempuan datang dengan membawa semangkuk
bubur dan segelas air putih.
“dia kenapa? Sakit?” tanyaku pada perempuan
yang masih mengenakan mukena.
“iya, badannya panas, sepertinya demam”
tuturnya sambil membangunkan perempuan yang terbaring dengan mata sembabnya.
***
Setelah 3 hari tak masuk kelas, sore itu
kudapati perempuan itu kembali di mushollah dengan mengulang-ulang hafalannya.
Kudekati ia, kuhampiri dengan senyuman.
“kemarin kau sakit apa?” tanyaku ringkas
Perempuan itu tersenyum lembut, ia kembali
memandang langit senja yang terbentang gagah dihadapannya. Ia kembali melirikku
dengan menghela nafas panjang.
“kau tahu rindu? Kau pernah merasakannya?.
Kenapa dia menanyakannya padaku, aku seperti anak kecil saja yang menerima
pertanyaan konyol darinya.
“pertanyaanmu lucu sekali, jelas aku tahu
tentang rindu, perasaan seorang manusia ketika jauh dan ingin bertemu dengan
orang yang Ia sayangi” tuturku.
Perempuan itu tersenyum namun kali ini tidak
dengan kelembutan tapi dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia nyaris menangis
dihadapan langit yang begitu gagah terbentang luas.
“ yah, aku merasakan rindu selama tiga hari,
dan rindulah yang membuatku sakit hingga aku tak bisa ke sekolah selama tiga
hari, rindu yang membuaku tak bisa makan dan minum hingga aku sulit melakukan
segalanya”
Aku menatapnya dengan lamat-lamat, perkataan
yang Ia lontarkan tadi sepertinya tulus dari lubuk hatinya.
“aku merindukan Ayahku, Ibuku dan seorang
adikku yang berada di seberang sana, jauh melintasi dua negara, melintasi
budaya yang berbeda dengan orang-orang yang berbeda pula”
Aku paham,
sejak SD kelas 5 ia merantau ke Indonesia ke rumah neneknya dan dimasukkan ke
pesantren selama kurang lebih 6 tahun hingga duduk dibangku kelas 2 SMA, ia
baru sekali pulang menemui keluarga kecilnya di Malaysia selama masa yang
begitu panjang.
Setelah tamat
dari Pesantren ia melanjutkan studynya dan kembali merantau, tidak main-main
kota tujuannya adalah Jakarta. Ia seorang diri membangun kehidupannya diatanah
kampung orang. Ia luar biasa.
Aku belajar
dari ia, sekarang aku tahu bagaimana rindu itu meletup dipangkal hati, meskipun
aku tak sehebat ia menyimpan rinduku dalam-dalam. Bahwa ia perempuan yang
menyimpan banyak rindu, ia menimbun cintanya dalam-dalam, yang ia sampaikan
lewat doa terbaiknya kepada Tuhannya. Ia begitu kukuh melawan rindunya yang tak
pernah habis oleh masa. Akan ada do’a-do’a terbaik disebalik perempuan yang
menyimpan setumpuk rindu yang telah mengakar hingga ke aliran darahnya.
“Belajarlah
dari sebuah perpisahan, bahwa suatu saat ia akan melahirkan cinta yang
menyakitkan yang bernama ‘rindu’” –Mawarda-


0 komentar:
Posting Komentar