Perempuan yang menyimpan banyak rindu

Selasa, 12 Agustus 2014


Setiap petang aku mendapatinya selalu bergegas rapi ke mushollah, setiap petang aku sering sekali mendapatinya melantunkan ayat-ayat Allah di dalam rumahnya itu, yang aku tahu dia selalu melaksanakan sholat-sholat sunnah seperti yang dicontohkan nabi. Aku mendapati dirinya untuk kesekian kalinya beribadah pada Tuhannya.
Petang ini dia belum datang di Mushollah seperti biasanya. Perempuan itu sama sekali tak muncul hingga sholat maghrib usai. Setelah berdoa dan mendengarkan kultum ustad, aku bergegas pulang ke asrama. Kudapati perempuan itu terbaring diatas kasurnya. Aku menghampirinya perlahan, tiba-tiba saja seorang perempuan datang dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air putih.

“dia kenapa? Sakit?” tanyaku pada perempuan yang masih mengenakan mukena.
“iya, badannya panas, sepertinya demam” tuturnya sambil membangunkan perempuan yang terbaring dengan mata sembabnya.
***
Setelah 3 hari tak masuk kelas, sore itu kudapati perempuan itu kembali di mushollah dengan mengulang-ulang hafalannya. Kudekati ia, kuhampiri dengan senyuman.
“kemarin kau sakit apa?” tanyaku ringkas
Perempuan itu tersenyum lembut, ia kembali memandang langit senja yang terbentang gagah dihadapannya. Ia kembali melirikku dengan menghela nafas panjang.
“kau tahu rindu? Kau pernah merasakannya?. Kenapa dia menanyakannya padaku, aku seperti anak kecil saja yang menerima pertanyaan konyol darinya.
“pertanyaanmu lucu sekali, jelas aku tahu tentang rindu, perasaan seorang manusia ketika jauh dan ingin bertemu dengan orang yang Ia sayangi” tuturku.
Perempuan itu tersenyum namun kali ini tidak dengan kelembutan tapi dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia nyaris menangis dihadapan langit yang begitu gagah terbentang luas.
“ yah, aku merasakan rindu selama tiga hari, dan rindulah yang membuatku sakit hingga aku tak bisa ke sekolah selama tiga hari, rindu yang membuaku tak bisa makan dan minum hingga aku sulit melakukan segalanya”
Aku menatapnya dengan lamat-lamat, perkataan yang Ia lontarkan tadi sepertinya tulus dari lubuk hatinya.
“aku merindukan Ayahku, Ibuku dan seorang adikku yang berada di seberang sana, jauh melintasi dua negara, melintasi budaya yang berbeda dengan orang-orang yang berbeda pula”
Aku paham, sejak SD kelas 5 ia merantau ke Indonesia ke rumah neneknya dan dimasukkan ke pesantren selama kurang lebih 6 tahun hingga duduk dibangku kelas 2 SMA, ia baru sekali pulang menemui keluarga kecilnya di Malaysia selama masa yang begitu panjang.
Setelah tamat dari Pesantren ia melanjutkan studynya dan kembali merantau, tidak main-main kota tujuannya adalah Jakarta. Ia seorang diri membangun kehidupannya diatanah kampung orang. Ia luar biasa.
Aku belajar dari ia, sekarang aku tahu bagaimana rindu itu meletup dipangkal hati, meskipun aku tak sehebat ia menyimpan rinduku dalam-dalam. Bahwa ia perempuan yang menyimpan banyak rindu, ia menimbun cintanya dalam-dalam, yang ia sampaikan lewat doa terbaiknya kepada Tuhannya. Ia begitu kukuh melawan rindunya yang tak pernah habis oleh masa. Akan ada do’a-do’a terbaik disebalik perempuan yang menyimpan setumpuk rindu yang telah mengakar hingga ke aliran darahnya.
“Belajarlah dari sebuah perpisahan, bahwa suatu saat ia akan melahirkan cinta yang menyakitkan yang bernama ‘rindu’” –Mawarda-

0 komentar:

Posting Komentar

 
Mawarda © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets