Sepulang dari Hospital
UMM sore itu, aku masih terbaring lemah, tapi setidaknya lebih baik dari
sebelumnya. Jarum infus yang menancap pada pembuluh nadiku masih
terbayang-bayang ‘seramnya’ siang tadi. Masih teringat jelas sewaktu perawat
rumah sakit memberi ‘Alkohol’ sambil melontarkan kalimat saat melihat diriku
menarik tangan sesekali dari genggamannya.
“Saya tidak bilang tidak sakit loh yah, saya juga
tidak bilang seperti digigit semut, saya tidak mau bohong, tapi kalau tidak segera
diinfus nanti tambah sakit karena kekurangan cairan” sesaat kemudian darahku
rasanya berdesir begitu cepat. Perawat ini benar-benar membuat saya down setengah mati, dalam hati “baru
kali ini ada perawat yang jujur betul”.
Saya tidak bisa menghitung berapa lama saya beradu
tangan dengan perawat, jarum suntik dan infus. Meskipun sudah teriak sekuat
yang saya bisa, menarik tangan sekuat saya, dan sudah mencak-mencak seperti
anak kecil yang ingin di infus di ujung sana namun tetap saja jarum ‘horor’ itu
sudah menancap pada nadiku tanpa permisi. Seketika aku diam melihat tanganku
dihiasi jarum ‘horor’ ini.
Dua jam berlalu di rumah sakit akhirnya menjelang
sore saya di izinkan pulang dan tidak untuk ‘rawat inap’. Setelah semua urusan
administrasi selesai akhirnya saya diantar pulang dengan mobil ambulance Rumah Sakit UMM. Pengalaman hari
itu benar-benar ajaib. Pertama kali di infus, pertama kali naik ambulance bestatus pasien. Menyedihkan.
Baru saja
merebahkan tubuh diatas kasur, tiba-tiba hujan turun dengan perlahan. Seketika
layar hadphoneku berkerlip sesaat. Kulirik sebuah pesan singkat dari Ibuku.
Hari hujan
Coba tengok diluar sana
Coba hitung rintik yang jatuh dari langit
Begitulah rinduku sore ini
Dari adek Ainun
Perasaanku
tidak bisa kujamah sore itu saat membaca pesan singkat dari adekku Ainun. Sejak
kapan ia pandai bersajak seperti kakaknya. Sejak kapan adek kecilku ini pandai
bermain kata. Rasa-rasanya baru kemarin aku mengajarinya berpuisi. Tiba-tiba
saja ia sudah pandai mengirimkan pesan singkat tapi makananya luar biasa.
Setahun tidak pulang membuat
perasaanku betul-betul rindu akan kampung halamanku sore itu. Entah malaikat
apa yang sedang menaungiku sampai memutuskan berpuasa dan berlebaran di tanah
kampung orang, dan rasanya itu sesak di dada menahan rindu. Membayangkan bagaimana
meriahnya hari raya dengan keluarga besar, berfoto bersama, bersalaman, merajut
ukhuwah kembali dan saling memaafkan.
Sore itu aku terjebak dengan
rinduku. Aku terjebak diantara bayang-bayang orang terkasih. Aku terjebak dan
aku sesak kembali menahan tangis.
“Cinta yang
menyakitkan itu bernama ‘Rindu’”


0 komentar:
Posting Komentar