Infus, Hujan dan Rindu Ainun

Sabtu, 05 April 2014


Sepulang dari Hospital UMM sore itu, aku masih terbaring lemah, tapi setidaknya lebih baik dari sebelumnya. Jarum infus yang menancap pada pembuluh nadiku masih terbayang-bayang ‘seramnya’ siang tadi. Masih teringat jelas sewaktu perawat rumah sakit memberi ‘Alkohol’ sambil melontarkan kalimat saat melihat diriku menarik tangan sesekali dari genggamannya.
“Saya tidak bilang tidak sakit loh yah, saya juga tidak bilang seperti digigit semut, saya tidak mau bohong, tapi kalau tidak segera diinfus nanti tambah sakit karena kekurangan cairan” sesaat kemudian darahku rasanya berdesir begitu cepat. Perawat ini benar-benar membuat saya down setengah mati, dalam hati “baru kali ini ada perawat yang jujur betul”.

Saya tidak bisa menghitung berapa lama saya beradu tangan dengan perawat, jarum suntik dan infus. Meskipun sudah teriak sekuat yang saya bisa, menarik tangan sekuat saya, dan sudah mencak-mencak seperti anak kecil yang ingin di infus di ujung sana namun tetap saja jarum ‘horor’ itu sudah menancap pada nadiku tanpa permisi. Seketika aku diam melihat tanganku dihiasi jarum ‘horor’ ini.
Dua jam berlalu di rumah sakit akhirnya menjelang sore saya di izinkan pulang dan tidak untuk ‘rawat inap’. Setelah semua urusan administrasi selesai akhirnya saya diantar pulang dengan mobil ambulance Rumah Sakit UMM. Pengalaman hari itu benar-benar ajaib. Pertama kali di infus, pertama kali naik ambulance bestatus pasien. Menyedihkan.
 Baru saja merebahkan tubuh diatas kasur, tiba-tiba hujan turun dengan perlahan. Seketika layar hadphoneku berkerlip sesaat. Kulirik sebuah pesan singkat dari Ibuku.
Hari hujan
Coba tengok diluar sana
Coba hitung rintik yang jatuh dari langit
Begitulah rinduku sore ini
Dari adek Ainun
Perasaanku tidak bisa kujamah sore itu saat membaca pesan singkat dari adekku Ainun. Sejak kapan ia pandai bersajak seperti kakaknya. Sejak kapan adek kecilku ini pandai bermain kata. Rasa-rasanya baru kemarin aku mengajarinya berpuisi. Tiba-tiba saja ia sudah pandai mengirimkan pesan singkat tapi makananya luar biasa.
            Setahun tidak pulang membuat perasaanku betul-betul rindu akan kampung halamanku sore itu. Entah malaikat apa yang sedang menaungiku sampai memutuskan berpuasa dan berlebaran di tanah kampung orang, dan rasanya itu sesak di dada menahan rindu. Membayangkan bagaimana meriahnya hari raya dengan keluarga besar, berfoto bersama, bersalaman, merajut ukhuwah kembali dan saling memaafkan.
            Sore itu aku terjebak dengan rinduku. Aku terjebak diantara bayang-bayang orang terkasih. Aku terjebak dan aku sesak kembali menahan tangis.
“Cinta yang menyakitkan itu bernama ‘Rindu’”

0 komentar:

Posting Komentar

 
Mawarda © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets