Mawar Terakhir

Jumat, 20 Desember 2013


Malang, 29 November 2013
 Dingin tak ubahnya rintik yang bergelayut membasahi tuan tanah, merangkul kami dalam percakapan sore itu dalam diam bersama hujan. Kita masih membungkam satu sama lain. Sempurna kebekuan sore itu, lantas hujan masih turun dengan lamat-lamat memata-matai kita disini. Kau melirik.
 Aku membuka percakapan itu dengan salam yang teramat kaku. Melirik secara paksa dan hanya pandangan yang beradu kuat selama beberapa detik. Aku kalah. Detik itu juga perasaanku mulai meletup-letup di pangkal hati. Entah kenapa perasaan ini tidak bisa berdamai sedikitpun, kedua tanganku mengepal dibawah kolong meja dan sesekali kutekuk kakiku dengan sangat kuat.
Kau menarik nafas panjang. Lalu kembali menatapku dalam diam. Kupikir kau akan mencairkan kebekuan sore ini, nyatanya tidak! Kau kembali menatap layar handphonemu yang sekali dua kali berdenting bak irama piano. Terdiam beberapa menit kau akhirnya bangkit dari diammu. Dengan serius kau menatap kearahku. Dingin tak ubahnya menjadi tungku pembakaran. Situasi menjadi panas seketika.

“lantas, hari ini kau datang dengan perasaan seperti ini, semarah itukah? Sekecewa itukah dirimu ?”
Aku memilih diam. Hanya helaan nafas yang beradu kuat dan kaki yang menjadi dingin seketika. Aku lebih memilih memandangi hujan dibandingkan memandangi wajahmu yang tidak bisa kujamah saat itu. Kau mungkin sama dengan diriku, kau teramat marah. Emosimu juga meletup-letup dipangkal hati.
“lantas kenapa kau tega mengakatakan semua itu. Rasanya sakit dan sesak disini”
Kau terdiam. Sesekali jilbabmu yang tergulung oleh angin kau rapikan dengan jari jemarimu yang terlihat kaku karena dingin. Kau pucat.
“aku mempercayaimu, lantas kau teramat tega mengatakan semuanya, sahabat macam apa kau? Setega itu kau melakukannya, entah dasar apa kau bisa melakukan semua ini, kau teramat hebat Ra’ telah membuatku menangis semalam suntuk.”
Kau menggigit bibirmu menekuknya secara rapat. Aku yakin baru kali ini kau mendapatiku marah dengan begitu garang dihadapanmu. Kau menyadari itu. Enam tahun terakhir aku lalui bersamamu sebagai sahabat bahkan sudah seperti keluarga. Ayah dan ibuku sangat mengenalmu dengan baik. Tapi… sampai detik ini juga aku tak kuasa memandangi wajahmu yang begitu memelas kasihan namun kejadian itu terus menghantui pikiranku. Kau jahat pikirku seketika.
Dingin tak ubahnya menjadi tawa tuan setan sore itu. Semakin hujan begemuruh dengan derasnya maka semakin bergemuruh juga tawa tuah setan. Terbahak dan terpingkal-pingkal menyaksikan dua anak yang sedang mengadu kemarahan.
“istigfar Shil, kau sedang diliputi amarah, ini bukan Aushil yang kukenal, paling-paling kau belum membaca almatsurat sore ini bukan?”
Kedua bola mataku membulat mendengar perkataannya barusan. Bisanya dia berkata demikian dengan wajah polosnya yang penipu. Pikirku cepat. Dia memang selalu begitu dan aku terperangkap dibalik semua itu.
“Aku pamit Shil, temui aku jika sudah membaca almatsurat ini, akan kujelaskan semua, kau boleh datang kapan saja kerumahku, pintuku terbuka lebar untukmu, maafkan aku Shil jika selama ini aku belum mampu menjadi sahabat seperti yang kau inginkan, salam untuk ayah dan ibumu yah..”
Aku tergugu diam. Melihat sebuah almatsurat kecil yang kau letakkan diatas meja. kau beranjak pergi dengan hujan yang mengguyur dengan derasnya. Dengan spontan kuteriaku dirimu dari kejauhan namun suaraku yang melengking itu tidak bisa mengalahkan deru derasnya hujan. Kau terus berjalan dengan cepat. Disamping almatsurat yang kau letakkan, ada sebuah kresek hitam terbungkus rapi. Aku tak berani membukanya ini milikmu yang tertinggal.
“besok saja kutemui ia, sekalian kubalikkan almatsurat miliknya dan kresek hitam miliknya ini” gumamku dalam hati. Aku beranjak pergi meninggalkan rasa kesal di tempat itu bersama hujan tak urung usai.

Kuniatkan diriku menemui Ara sore ini, mungkin ini pertemuan terakhir kita. Perasaanku begitu meletup, rasanya aku tak ingin bertemu lagi dengannya. Setelah membaca almatsurat yang ia berikan sore itu, aku bergegas cepat. Handphone yang semalaman yang ku non aktifkan tiba-tiba berdenting beruntutan tanda notification masuk silih bergantian memenuhi layar handphoneku. Aku memang tidak suka mengcharge handphoneku dalam keadan nyala. Itu kebiasaan buruk yang sering dilakukan dan dianggap sepele. Pikirku.
13 pesan tidak terbaca, 6 percakapan 124 pesan WA, 8 Bbm  masuk, 3 Line, dan notification lainnya yang terus bermuculan.
Aku runtuh saat membuka sebuah foto yang dikirim salah seorang temanku lewat bbm. Aku tak bisa menyembunyikan tangisku sore itu. Awan diluar sana hitam tak bergeming. Seolah ingin memuntahkan kemarahan. Sebentar lagi akan hujan. Tubuhku lemas, pandanganku melayang tak karuan aku tidak sanggup membayangkan semuanya. Dalam perjalanan aku tak ubahnya menghela nafas panjang dan melafadzkan kalamullah. Aku melaju dengan cepat mengalahakan rintik hujan yang perlahan memenuhi bumi.
Aku kembali terdiam bersama hujan dan deru angin yang saling bersahutan. Tiba-tiba yang terlintas dibenakku adalah perkataan Ara kemarin sore.
“Aku pamit Shil, temui aku jika sudah membaca almatsurat ini, akan kujelaskan semua, kau boleh datang kapan saja kerumahku, pintuku terbuka lebar untukmu, maafkan aku Shil jika selama ini aku belum mampu menjadi sahabat seperti yang kau inginkan, salam untuk ayah dan ibumu yah..”
Kenapa harus kutunda membaca almatsurat yang ia berikan, kenapa? Tangisku pecah dengan iringan hujan dan deru angin yang masih sama melambai-lambai disini.
“Pemakan ini telah selesai tadi pagi. Kau telat Shil, kemarin sore Ara kecelakaan setelah pulang dari kampus, kemarin Ara pamit untuk ke kampus untuk menemuimu, katanya ia ingin memberikan hadiah ulang tahun di hari jadimu yang ke-20, ternyata itu adalah senyum terakhir adikku yang begitu besemangat” kakak Ara, Mas Ibnu tak kuasa menceritakan detik-detik terakhir bersama adiknya. Aku paham betapa terpukulnya ia, sebab Ara adalah satu-satunya keluarga yang masih tersisa setalah kecelakaan empat tahun lalu merenggut ayah, ibunya.
Tibalah aku dipuncak tangisku. Dihadapan pusaramu aku bersimpuh mendatangi pintu rumahmu yang terakhir. Aku datang Ara, Aku datang memenuhi janjiku. Namun kau pergi meningglakanku tanpa belum menepati janjimu, kau belum menceritakan semuanya.
“Ara, aku datang, aku sudah membaca almatsurat yang kau berikan aku kemarin, Ara maafkan aku, aku datang terlambat, aku jahat sekali Ra’, sahabat macam apa aku ini,” aku tak ubahnya menyalahkan diriku sendiri, menikam segala bentuk perasaan yang muncul. Aku merasa bersalah. Maafkan Aku Ra’
Terima kasih telah mengizinkanku datang berkunjung disini. Terima kasih masih menganggapku sebagai sahabatmu Ra’, terima kasih untuk surat dan mawar terakhir yang kau berikan. Terima kasih untuk semua kebaikan dan rasa sakit ini. Terima kasih telah menjadi teman dan guru yang baik. Bersama iringan linangan air mata perlahan kubuka surat yang ternyata kau layangkan untukku sore itu.
“Untuk membuat sesorang menyadari tentang apa yang dirasakannya.  Cara terbaik adalah melalui hal yang paling menyakitkan. Saat kau pergi. Seseorang yang teramat kau sayangi baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan. Tuhan akan membuktikan lewat waktu dan jarak yang Ia miliki. Sejatinya perasaan dan hati itu adalah milik Allah, maha besar Allah yang membolak-balikkan hati manusia, Maha besar dengan penciptaan manusia yang begitu sempurna”.
THE END

1 komentar:

  1. Rahma Afnan mengatakan...:

    hmmm bagus de'.. :) , cuma masalah teknis saja seperti penulisan huruf kapital dan dan tanda baca :), jagna salah,itu penting lhooo... tetap semangat nulisnya :)

Posting Komentar

 
Mawarda © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets