Malang,
29 November 2013
Dingin tak ubahnya rintik yang bergelayut membasahi
tuan tanah, merangkul kami dalam percakapan sore itu dalam diam bersama hujan. Kita
masih membungkam satu sama lain. Sempurna kebekuan sore itu, lantas hujan masih
turun dengan lamat-lamat memata-matai kita disini. Kau melirik.
Aku membuka
percakapan itu dengan salam yang teramat kaku. Melirik secara paksa dan hanya
pandangan yang beradu kuat selama beberapa detik. Aku kalah. Detik itu juga
perasaanku mulai meletup-letup di pangkal hati. Entah kenapa perasaan ini tidak
bisa berdamai sedikitpun, kedua tanganku mengepal dibawah kolong meja dan
sesekali kutekuk kakiku dengan sangat kuat.
Kau menarik nafas panjang. Lalu kembali menatapku
dalam diam. Kupikir kau akan mencairkan kebekuan sore ini, nyatanya tidak! Kau kembali
menatap layar handphonemu yang sekali
dua kali berdenting bak irama piano. Terdiam beberapa menit kau akhirnya
bangkit dari diammu. Dengan serius kau menatap kearahku. Dingin tak ubahnya
menjadi tungku pembakaran. Situasi menjadi panas seketika.
“lantas, hari ini kau datang dengan perasaan seperti
ini, semarah itukah? Sekecewa itukah dirimu ?”
Aku memilih diam. Hanya helaan nafas yang beradu
kuat dan kaki yang menjadi dingin seketika. Aku lebih memilih memandangi hujan
dibandingkan memandangi wajahmu yang tidak bisa kujamah saat itu. Kau mungkin
sama dengan diriku, kau teramat marah. Emosimu juga meletup-letup dipangkal
hati.
“lantas kenapa kau tega mengakatakan semua itu. Rasanya
sakit dan sesak disini”
Kau terdiam. Sesekali jilbabmu yang tergulung oleh
angin kau rapikan dengan jari jemarimu yang terlihat kaku karena dingin. Kau pucat.
“aku mempercayaimu, lantas kau teramat tega
mengatakan semuanya, sahabat macam apa kau? Setega itu kau melakukannya, entah
dasar apa kau bisa melakukan semua ini, kau teramat hebat Ra’ telah membuatku
menangis semalam suntuk.”
Kau menggigit bibirmu menekuknya secara rapat. Aku yakin
baru kali ini kau mendapatiku marah dengan begitu garang dihadapanmu. Kau menyadari
itu. Enam tahun terakhir aku lalui bersamamu sebagai sahabat bahkan sudah
seperti keluarga. Ayah dan ibuku sangat mengenalmu dengan baik. Tapi… sampai
detik ini juga aku tak kuasa memandangi wajahmu yang begitu memelas kasihan
namun kejadian itu terus menghantui pikiranku. Kau jahat pikirku seketika.
Dingin tak ubahnya menjadi tawa tuan setan sore itu.
Semakin hujan begemuruh dengan derasnya maka semakin bergemuruh juga tawa tuah
setan. Terbahak dan terpingkal-pingkal menyaksikan dua anak yang sedang mengadu
kemarahan.
“istigfar Shil, kau sedang diliputi amarah, ini
bukan Aushil yang kukenal, paling-paling kau belum membaca almatsurat sore ini bukan?”
Kedua bola mataku membulat mendengar perkataannya
barusan. Bisanya dia berkata demikian dengan wajah polosnya yang penipu. Pikirku
cepat. Dia memang selalu begitu dan aku terperangkap dibalik semua itu.
“Aku pamit Shil, temui aku jika sudah membaca
almatsurat ini, akan kujelaskan semua, kau boleh datang kapan saja kerumahku,
pintuku terbuka lebar untukmu, maafkan aku Shil jika selama ini aku belum mampu
menjadi sahabat seperti yang kau inginkan, salam untuk ayah dan ibumu yah..”
Aku tergugu diam. Melihat sebuah almatsurat kecil
yang kau letakkan diatas meja. kau beranjak pergi dengan hujan yang mengguyur
dengan derasnya. Dengan spontan kuteriaku dirimu dari kejauhan namun suaraku
yang melengking itu tidak bisa mengalahkan deru derasnya hujan. Kau terus
berjalan dengan cepat. Disamping almatsurat yang kau letakkan, ada sebuah
kresek hitam terbungkus rapi. Aku tak berani membukanya ini milikmu yang
tertinggal.
“besok saja kutemui ia, sekalian kubalikkan
almatsurat miliknya dan kresek hitam miliknya ini” gumamku dalam hati. Aku beranjak
pergi meninggalkan rasa kesal di tempat itu bersama hujan tak urung usai.
Kuniatkan diriku menemui Ara sore ini, mungkin ini
pertemuan terakhir kita. Perasaanku begitu meletup, rasanya aku tak ingin
bertemu lagi dengannya. Setelah membaca almatsurat yang ia berikan sore itu,
aku bergegas cepat. Handphone yang
semalaman yang ku non aktifkan tiba-tiba berdenting beruntutan tanda notification masuk silih bergantian
memenuhi layar handphoneku. Aku memang
tidak suka mengcharge handphoneku dalam keadan nyala. Itu kebiasaan buruk yang
sering dilakukan dan dianggap sepele. Pikirku.
13 pesan tidak terbaca, 6 percakapan 124 pesan WA, 8
Bbm masuk, 3 Line, dan notification lainnya yang terus
bermuculan.
Aku runtuh saat membuka sebuah foto yang dikirim
salah seorang temanku lewat bbm. Aku tak bisa menyembunyikan tangisku sore itu.
Awan diluar sana hitam tak bergeming. Seolah ingin memuntahkan kemarahan. Sebentar
lagi akan hujan. Tubuhku lemas, pandanganku melayang tak karuan aku tidak
sanggup membayangkan semuanya. Dalam perjalanan aku tak ubahnya menghela nafas
panjang dan melafadzkan kalamullah. Aku melaju dengan cepat mengalahakan rintik
hujan yang perlahan memenuhi bumi.
Aku kembali terdiam bersama hujan dan deru angin
yang saling bersahutan. Tiba-tiba yang terlintas dibenakku adalah perkataan Ara
kemarin sore.
“Aku pamit Shil, temui aku jika sudah membaca
almatsurat ini, akan kujelaskan semua, kau boleh datang kapan saja kerumahku,
pintuku terbuka lebar untukmu, maafkan aku Shil jika selama ini aku belum mampu
menjadi sahabat seperti yang kau inginkan, salam untuk ayah dan ibumu yah..”
Kenapa harus kutunda membaca almatsurat yang ia
berikan, kenapa? Tangisku pecah dengan iringan hujan dan deru angin yang masih
sama melambai-lambai disini.
“Pemakan ini telah selesai tadi pagi. Kau telat
Shil, kemarin sore Ara kecelakaan setelah pulang dari kampus, kemarin Ara pamit
untuk ke kampus untuk menemuimu, katanya ia ingin memberikan hadiah ulang tahun
di hari jadimu yang ke-20, ternyata itu adalah senyum terakhir adikku yang
begitu besemangat” kakak Ara, Mas Ibnu tak kuasa menceritakan detik-detik terakhir
bersama adiknya. Aku paham betapa terpukulnya ia, sebab Ara adalah satu-satunya
keluarga yang masih tersisa setalah kecelakaan empat tahun lalu merenggut
ayah, ibunya.
Tibalah aku dipuncak tangisku. Dihadapan pusaramu
aku bersimpuh mendatangi pintu rumahmu yang terakhir. Aku datang Ara, Aku
datang memenuhi janjiku. Namun kau pergi meningglakanku tanpa belum menepati
janjimu, kau belum menceritakan semuanya.
“Ara, aku datang, aku sudah membaca almatsurat yang
kau berikan aku kemarin, Ara maafkan aku, aku datang terlambat, aku jahat
sekali Ra’, sahabat macam apa aku ini,” aku tak ubahnya menyalahkan diriku
sendiri, menikam segala bentuk perasaan yang muncul. Aku merasa bersalah.
Maafkan Aku Ra’
Terima kasih telah mengizinkanku datang berkunjung
disini. Terima kasih masih menganggapku sebagai sahabatmu Ra’, terima kasih
untuk surat dan mawar terakhir yang kau berikan. Terima kasih untuk semua
kebaikan dan rasa sakit ini. Terima kasih telah menjadi teman dan guru yang
baik. Bersama iringan linangan air mata perlahan kubuka surat yang ternyata kau
layangkan untukku sore itu.
“Untuk membuat sesorang menyadari tentang apa yang
dirasakannya. Cara terbaik adalah
melalui hal yang paling menyakitkan. Saat kau pergi. Seseorang yang teramat kau
sayangi baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai menjelaskan apa yang sesungguhnya
dia rasakan. Tuhan akan membuktikan lewat waktu dan jarak yang Ia miliki. Sejatinya
perasaan dan hati itu adalah milik Allah, maha besar Allah yang
membolak-balikkan hati manusia, Maha besar dengan penciptaan manusia yang
begitu sempurna”.
THE END

hmmm bagus de'.. :) , cuma masalah teknis saja seperti penulisan huruf kapital dan dan tanda baca :), jagna salah,itu penting lhooo... tetap semangat nulisnya :)