Perempuan yang menyimpan banyak rindu

Selasa, 12 Agustus 2014 0 komentar


Setiap petang aku mendapatinya selalu bergegas rapi ke mushollah, setiap petang aku sering sekali mendapatinya melantunkan ayat-ayat Allah di dalam rumahnya itu, yang aku tahu dia selalu melaksanakan sholat-sholat sunnah seperti yang dicontohkan nabi. Aku mendapati dirinya untuk kesekian kalinya beribadah pada Tuhannya.
Petang ini dia belum datang di Mushollah seperti biasanya. Perempuan itu sama sekali tak muncul hingga sholat maghrib usai. Setelah berdoa dan mendengarkan kultum ustad, aku bergegas pulang ke asrama. Kudapati perempuan itu terbaring diatas kasurnya. Aku menghampirinya perlahan, tiba-tiba saja seorang perempuan datang dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air putih.

Infus, Hujan dan Rindu Ainun

Sabtu, 05 April 2014 0 komentar


Sepulang dari Hospital UMM sore itu, aku masih terbaring lemah, tapi setidaknya lebih baik dari sebelumnya. Jarum infus yang menancap pada pembuluh nadiku masih terbayang-bayang ‘seramnya’ siang tadi. Masih teringat jelas sewaktu perawat rumah sakit memberi ‘Alkohol’ sambil melontarkan kalimat saat melihat diriku menarik tangan sesekali dari genggamannya.
“Saya tidak bilang tidak sakit loh yah, saya juga tidak bilang seperti digigit semut, saya tidak mau bohong, tapi kalau tidak segera diinfus nanti tambah sakit karena kekurangan cairan” sesaat kemudian darahku rasanya berdesir begitu cepat. Perawat ini benar-benar membuat saya down setengah mati, dalam hati “baru kali ini ada perawat yang jujur betul”.

Mawar Terakhir

Jumat, 20 Desember 2013 1 komentar


Malang, 29 November 2013
 Dingin tak ubahnya rintik yang bergelayut membasahi tuan tanah, merangkul kami dalam percakapan sore itu dalam diam bersama hujan. Kita masih membungkam satu sama lain. Sempurna kebekuan sore itu, lantas hujan masih turun dengan lamat-lamat memata-matai kita disini. Kau melirik.
 Aku membuka percakapan itu dengan salam yang teramat kaku. Melirik secara paksa dan hanya pandangan yang beradu kuat selama beberapa detik. Aku kalah. Detik itu juga perasaanku mulai meletup-letup di pangkal hati. Entah kenapa perasaan ini tidak bisa berdamai sedikitpun, kedua tanganku mengepal dibawah kolong meja dan sesekali kutekuk kakiku dengan sangat kuat.
Kau menarik nafas panjang. Lalu kembali menatapku dalam diam. Kupikir kau akan mencairkan kebekuan sore ini, nyatanya tidak! Kau kembali menatap layar handphonemu yang sekali dua kali berdenting bak irama piano. Terdiam beberapa menit kau akhirnya bangkit dari diammu. Dengan serius kau menatap kearahku. Dingin tak ubahnya menjadi tungku pembakaran. Situasi menjadi panas seketika.

Dulu kita seperti Kepompong

Minggu, 17 Maret 2013 0 komentar





dulu kita sahabat
teman begitu hangat
mengalahkan sinar mentari
**
dulu kita sahabat
berteman bagai ulat
berharap jadi kupu kupu
***
kini kita berjalan berjauh jauhan
kau jauhi diriku ada sesuatu
mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
namun itu karena ku sayang

Malang (UMM), I’m Coming

Sabtu, 15 Desember 2012 4 komentar


Fajar, 23 Mei 2012, streeeeeeet…
Suara pena harga recehan itu mencoret salah satu tulisan diatas kertas itu, “ Kuliah di Universitas terkenal di jawa (Yogyakarta, Bandung, Bogor, Malang) setel`h lulus SMA tahun 2012”. Tulisan itu benar-benar menjadi sebuah mimpi nyata kala hari kemarin. Hari itu perasaanku penuh! Bahagia, sedih, dan spicles.. seolah tak pernah membayangkan tulisan ini benar-benar menjadi sebuah mimpi nyata dalam hidupku.
 “jangan pernah takut bermimpi menggenggam dunia,
karena seorang pemimpin lahir dari mimpi-mimpi yang ia tuliskan”

RUANG RINDU HUJAN

Senin, 03 Desember 2012 0 komentar


Bulir-bulir air dari langit perlahan berhenti sejenak. Meninggalkan gerimis manja setelah hujan deras usai mewarnai senja di kota malang. Angin berhembus sejuk membawa aroma bau tanah basah menyeruak dalam indera penciuman masuk ke rongga dada yang memenuhi sesak menyegarkan. Dingin semakin bergelayut memenuhi sudut ruang.
Bersama gerimis kulangkahkan kaki melewati genangan-genangan air berwarna coklat pekat. Pepohonan rimbun menyisakan daun berguguran yang jatuh dengan senada warna tanah. Cantik. Bagaikan musim semi di negeri sakura, meskipun hanya sekedar musim hujan di kota Malang bagiku sama saja indahnya jika perasaan hati memang sedang dilanda bahagia yang luar biasa.

 
Mawarda © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets